Page 37 - Majalah REI Edisi November 2023
P. 37
ISU GLOBAL
memperingatkan bahwa gagal bayar utang
yang terjadi kepada Evergrande berpotensi
memicu gagal bayar pada pengembang
properti lain di China.
Hal itu dikarenakan sektor realestat
menjadi penopang ekonomi di Tiongkok.
Pada tahun 2021, sektor ini menyumbang
sekitar 25,4% dari produk domestik bruto
(PDB) negara tersebut.
Utang yang tidak mampu dibayarkan
Evergrande Group mencapai US$ 330 miliar
atau sekitar Rp 4.950 triliun (kurs Rp 15.000).
Kebangkrutan ini berawal dari kekacauan
pengelolaan keuangan sejak beberapa ta-
hun terakhir. Pasalnya, mayoritas kegiatan
bisnis di perusahaan tersebut dilakukan
dengan dana pinjaman sehingga berujung
kepada gagal membayarkan tagihan utang
karena mengalami krisis likuiditas.
Kekhawatiran Pasar Situasi keuangan Evergrande semakin
Keruntuhan perusahaan properti terke- “Saat ini, investor terus parah pasca keputusan Pemerintah China
muka di China tersebut sangat meme- mencermati pasar yang menerapkan kebijakan “Tiga Garis
ngaruhi perekonomian Tiongkok secara Merah” yang membatasi utang dan meminta
luas. Pasalnya, industri properti China properti China, pengembang menawarkan diskon untuk
menyumbangkan sekitar 30% terhadap produk properti yang dijual kepada warga
produk domestik bruto (PDB) Negeri Panda dan apakah pasar China. Hal itu membuat perusahaan ini se-
tersebut. properti dapat makin sulit untuk melakukan pembayaran
“Saat ini, investor terus mencermati pasar atas utang-utangnya.
properti China, dan apakah pasar properti segera stabil atau Selain Evergrande, pengembang China
dapat segera stabil atau berdampaknya ter- lain yakni Oceanwide Holdings semakin
hadap permintaan dan harga komoditas berdampaknya terhadap menambah kekhawatiran investor karena
global,” kata Tao Wang, Kepala Ekonomi Asia permintaan dan Pengadilan Bermuda telah memerintahkan
di UBS kepada CNN. pembubaran perusahaan tersebut dan
Hambatan terhadap rencana restrukturi- harga komoditas menunjuk likuidator sementara bersama.
sasi utang pengembang China, Evergrande Sementara Country Garden, pengembang
Group, memang telah menghidupkan kem- global.” China lainnya, memiliki kewajiban untuk
bali kekhawatiran terhadap sektor properti membayar utang mencapai US$191,7 miliar
di Negeri Tirai Bambu tersebut. atau setara Rp2.931 triliun. (Teti Purwanti)
Stephen Innes, Managing Partner SPI
Asset Management, menilai kekhawatiran
terhadap stabilitas ekonomi China muncul
kembali didorong oleh krisis keuangan yang
semakin parah di Evergrande.
“Hal ini memicu kembali kekhawatiran
bahwa sektor perumahan di negara ini
masih memburuk dan tidak menunjukkan
tanda-tanda perbaikan dan risiko stabilitas
keuangan meningkat,” ungkapnya.
Selain itu, ada rasa tidak nyaman yang
semakin besar mengenai apakah Peme-
rintah China mampu mengambil langkah-
langkah yang cukup untuk mendukung
kembali perekonomian secara keseluruhan.
JP Morgan, perusahaan penyedia
layanan perbankan, investasi, sekuritas, ma-
najemen aset hingga pembiayaan rumah FOTO-FOTO: ISTIMEWA
RealEstat Indonesia | Edisi 203, November 2023 | 37

